Thursday, December 5, 2013

[Review] Me Before You


Judul : Me Before You (Sebelum Mengenalmu)
Penulis : Jojo Moyes
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun cetakan : 2013
Jenis : paperback
ISBN : 9789792295771

Rating : 3,5/5


Awalnya saya nggak begitu mengutamakan untuk membeli buku ini, karena, well, chicklit, dan wishlist saya kan masih banyak yang lebih penting. #songong Eh lalu sewaktu mendapat informasi target saya untuk event Secret Santa dan kemudian saya mengecek wishlist-nya, ada buku ini tercantum di dalamnya. Lalu kok saya jadi ikutan mupeng, ya? Hahaha. Akhirnya sambil membelikan buku untuk target, saya juga beli buku ini untuk diri sendiri. Hihi. *Santa amatiran*

Me....

Lou Clark telah terbiasa dan nyaman dengan pekerjaannya sebagai pelayan kafe di sebuah kota turis kecil. Sayangnya, hari itu ia mendapatkan sebuah amplop yang berisikan tiga bulan gajinya sebagai pesangon. Pemilik kafe tempatnya bekerja seketika memutuskan untuk menutup usahanya dan kembali ke negeri aslinya, Australia. Walaupun sebenarnya tidak terlalu peduli akan pekerjaan, tapi kondisi ekonomi keluarga Lou yang sedang tidak begitu bagus membuat Lou harus segera mendapatkan pekerjaan lagi secepatnya. Masalahnya adalah, Lou adalah orang yang terlalu pemilih. Dengan cepat ia keluar dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain hanya karena ia merasa bosan dan tidak cocok. Konsultan ketenagakerjaan yang ditugaskan untuknya sudah tidak menemukan pekerjaan lain yang sesuai dengan kualifikasi Lou dan dapat disetujui oleh gadis 26 tahun tersebut. Pekerjaan yang tersisa hanyalah sebagai asisten perawat bagi Will Traynor....

Will adalah penyandang quadriplegia C5/6, sebuah kondisi dimana tubuh penderita mengalami kelumpuhan nyaris total. Dalam kasus Will, bagian tubuh yang masih dapat ia gerakkan hanyalah kepala dan sebelah lengan dengan jenis pergerakan yang sangat terbatas. Kondisi ini didapatkan oleh Will dari kecelakaan yang mengakibatkan dirinya menderita kerusakan tulang belakang. Padahal sebelumnya dirinya adalah seorang pengusaha muda yang sukses dan aktif, yang penuh petualangan dan mimpi-mimpi. Ketika vonis keterbatasan dijatuhkan padanya, Will merasa hidupnya secara praktis telah berhenti. Oleh karena itu dia memutuskan untuk melakukan euthanasia, dan Lou ditugaskan oleh orangtua Will untuk mencegah keinginannya. Bisakah Lou, mantan peracik teh di sebuah kafe kecil, mengubah keputusan Will untuk mengakhiri hidupnya?

Before....

Hal yang membuat saya tertarik pada novel ini, terlepas dari genrenya yang tidak biasanya saya pegang, adalah karena premisnya mengenai tokoh utama (pria) yang tidak sempurna. Saya jaraaaang sekali melihat tokoh utama pria yang memiliki ketidaksempurnaan fisik dalam novel romansa, seperti yang memiliki ketunaan atau bahkan tokoh utama pria yang dibilang jelek secara fisik oleh penulisnya. Saking jarangnya saya sampai memutuskan untuk akan langsung mempertimbangkan untuk membaca novel-novel romens yang memiliki kriteria tokoh utama pria dengan kualifikasi di atas. Makanya begitu saya membaca bahwa buku ini menceritakan tentang tokoh utama pria yang quadriplegic, saya langsung berniat akan membacanya suatu saat. hehe.

Dan sebagian besar saya cukup puas dengan pengolahan tema yang menarik ini, walaupun tema romansanya sebenarnya klise, masih tetap cowok kaya bertemu cewek biasa-biasa saja, masih tetap dua dunia yang berbeda dipersatukan oleh cinta. Inti dari ceritanya bisa dijelaskan dari gambar berikut ini:


Perbedaannya cuma siapa yang mengalami ketunaan, jenis ketunaan, dan... sedikit konklusi yang agak berbeda. Sweet, isn't it? Yep, dan yang membuat saya salut adalah bahwa Jojo Moyes tidak menjadikan potensi "kemanisan" cerita ini menjadi sesuatu yang overdramatis, overly cheesy, atau overly sappy. Saya menyukai hubungan Lou dan Will yang dibuat sedemikian subtil hingga kadar romansanya benar-benar terasa menyatu dengan isu disabilitas yang disandang oleh Will. Pemikiran-pemikiran dalam kisah ini pun terkesan realistis, dan saya suka bagaimana Lou dibuat tetap bersama pacarnya, Patrick, selama sebagian besar cerita alih-alih langsung putus di paruh awal cerita hanya untuk membuat Lou dan Will bersama--atau membuat tokoh 'yang dijodohkan' mempunyai kelebihan dibanding pacar sebelumnya, hal yang biasanya lumayan sering saya temukan dalam kisah-kisah romansa lain yang pernah saya baca.

Gaya bercerita Jojo juga menurut saya sangat mengalir dan enak diikuti. Sewaktu bukunya sampai di rumah, saya lumayan terintimidasi oleh ketebalannya yang begitu mengerikan untuk ukuran chicklit dan membuat saya berpikir, "Ada apa saja di dalam cerita romens kok sampai bisa setebal ini? Bulkannya yang namanya romens itu ketemu, klepek-klepekan, konflik, resolusi, lalu tamat?" Awalnya saya sangsi mampu menyelesaikan membaca buku ini dengan hobi saya yang pembosan dan deadline tugas saya yang menumpuk, tapi ternyata sekali duduk saya bisa melahap sekitar 100-an halaman langsung, suatu prestasi bagi saya yang biasanya cuma mampu membaca 20-50 halaman sehari (iya, saya memang lemot dalam membaca karena punya masalah disleksia ringan). Jojo Moyes dapat menyajikan cerita bermuatan serius dengan cara yang begitu ringan. Pemilihan kata-kata dan pemenggalan kalimatnya efektif dan efisien, hingga tidak membuat saya perlu kembali membaca beberapa kalimat sebelumnya untuk mengerti apa yang sedang dibahas. Tidak ada penjelasan medis ribet soal quadriplegia, tidak ada pembahasan isu yang bisa bikin kening berkerut, dan lain-lain. Pengolahan isunya juga ringan dan cakap, menyinggung isu sensitif mengenai pro-choice vs. pro-life, tapi tidak bergaya menceramahi. Isu dalam novel ini dibahas dalam sudut pandang awam namun menyajikan argumen-argumen pro-kontra dengan cara yang mampu mengedukasi pembaca yang awam dengan mudah pula. Tidak ada tendensi untuk memenangkan satu pihak walau resolusi kisah ini menjurus kepada satu pihak--yang menjadi kontroversi.

Ada beberapa review yang menyatakan bahwa mungkin sebaiknya ada sudut pandang Will, supaya pembaca bisa mengerti perasaannya dan penderitaannya hingga mungkin bisa mengerti alasan pengambilan keputusannya. Berbeda dengan mereka, saya justru suka dengan cara Jojo Moyes menutup akses pembaca terhadap sudut pandang Will. Karena memang kisah ini bukanlah kisah otobiografi penderitaan penderita disabilitas, tapi lebih memfokuskan pada bagaimana gambaran dukungan sosial yang diberikan oleh orang-orang yang berada di sekitar penyandang disabilitas. Terkadang publik memang lebih tertarik pada kisah-kisah pergulatan hidup yang memuja penderitaan sebagai bentuk bersyukur yang angkuh dan rasa simpati naas yang seolah berbicara, "Kasihan sekali orang itu sebegitunya menderita, banyak bersyukurlah kita yang tidak mengalaminya." Sudah saatnya masyarakat berhenti mendambakan pengorekan terhadap kesedihan dan penderitaan penyandang disabilitas atas nama simpati dan mulai berusaha mendukung mereka sebagai layaknya manusia yang sama-sama memiliki kebutuhan dan keputusan. Saya rasa Jojo sudah berusaha mengatakan hal yang sama dalam kisah ini, dari refleksi-refleksi Lou atas lingkungan sekitar Will, dan juga keputusan final yang diambil oleh Will.

Sayangnya, meskipun eksekusi isunya sudah baik, namun Jojo Moyes terasa kurang mumpuni dalam ranah pengembangan karakter. Saya harus jujur bahwa saya sangat tidak menyukai karakter Lou yang pola pikirnya seolah tidak cocok dengan usianya yang sudah 26 tahun. Lou di imajinasi saya tidak lebih dari remaja 16 tahun yang masih tukang ngambek, egois, kekanakan, dan maunya sendiri yang sedang bekerja part-time. Saya rasa yang membuat saya tidak berhenti membaca buku ini adalah karena gaya menulis Jojo Moyes, yang walaupun menggunakan sudut pandang Lou yang seperti itu, tapi tetap membuat Lou sebagai seorang observer yang handal dan cukup objektif hingga karakter-karakter yang lain tetap dapat mendapatkan porsinya yang cukup, setidaknya tidak seperti karakter Katniss dalam Hunger Games yang selalu, "aku, aku, dan aku dan selamat tinggal tokoh sampingan, kisah ini adalah tentang AKU!" Tapi tetap saja, saya sering menemukan semacam inkonsistensi dalam karakter-karakter yang dibuat oleh Jojo, mulai dari Lou yang kadang kekanakan tapi kadang tiba-tiba jadi begitu bijak, Will yang kata-katanya sering bertolak-belakang, atau ibu Will yang sikapnya tidak jelas. Karakter yang menurut saya konsisten justru karakter yang cuma muncul sesekali seperti tokoh ayah Will, ayah Lou, atau Katrina--saya suka dia.

Masalah sudut pandang, sebagian besar sudut pandang adalah dari sudut pandang Lou sebagai orang pertama. Sebagian besar, karena di sini pembaca juga akan disuguhi oleh sudut pandang Mrs. Traynor, Nathan, Mr. Traynor, dan Katrina--yang konyolnya--masing-masing hanya diberi jatah satu bab. Menurut saya sudut pandang orang-orang ini agak tidak penting. Lagipula, apa tujuannya? Untuk menjelaskan situasi secara lebih objektif? Untuk mengupas perasaan tokoh-tokoh selain Lou? Saya rasa tujuan itu tidak tercapai untuk pembaca macam saya, karena hanya sukses membuat saya makin tidak mengerti--dan cuma sekedar demi menambah ketebalan buku.

You....

Di review-review saya sebelumnya, saya sering bilang bahwa saya tidak pernah mempermasalahkan klise selama eksekusi plot klisenya mumpuni, dan Me Before You adalah salah satu novel romansa klise yang saya suka sekali gaya penuturannya. Tidak ada sedikit pun keinginan untuk menutup buku ini dari awal sampai akhir karena gaya penceritaan dan pengolahan isu yang baik dari Jojo Moyes. Meskipun begitu, bagi saya tidak ada sesuatu yang istimewa pada buku ini, saya menyelesaikannya dengan perasaan yang biasa saja--padahal sudah waspada agar jangan nangis seperti saat baca P.S. I Love You setelah membaca beberapa review yang bilang kisah ini menyedihkan, tapi ternyata bahkan tidak nangis sama sekali. Tapi tetap saja, saya menyukai kisahnya, dan akan merekomendasikan Me Before You bagi mereka yang menginginkan sedikit variasi dari kisah cinta pada umumnya sekaligus kisah yang mampu memberikan bahan refleksi yang apik mengenai orang-orang dengan disabilitas--dan tentu saja, dengan eksplorasi isu yang cakap tanpa ditamengi oleh embel-embel inspiratif.

5 comments:

  1. Yu, kok tulisan potingan text-mu silau banget yah kalau buka dari iPad? Sama donk kita kasih rating 3,5. Kurang suka sama karakter2nya. Dan setuju POV lain ga guna. BTW: Saya suka Katniss Everdeen :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh iya, mbak? mungkin karena putih di atas hitam, ya. Nanti tak coba sesuaikan layoutnya deh. hehe. kasih 3,5 soalnya isunya bagus dan layak dapat rating lebih tapi sensasi bacanya kurang, mbak. XD

      Saya juga mau coba beli paperback-nya HG dan baca ulang, nih, siapatau berubah pikiran soal Katniss. Tapi waktu pertama baca HG sih saya merasa capek banget sama pov-nya Katniss.

      Delete
    2. hahaha, itu masalah selera kok. Hmmm jadi mau baca P.S I Love You, sayang kalah cepat waktu ada info diskonan. #maunyamurah Oh, jadi target Ayu salah satu wishnya ini yah #noted #salahfokus

      Delete
    3. P.S. I Love You bagus, sih, menurut saya, walau terjemahannya agak gimana gitu. Tapi karena saya emang sucker buat sweet--and loyal--romance, makanya pas baca langsung "huaaaaaaaaaa Gerrryyyyyyyyyy" *tisu abis*

      Delete
  2. ceritanya page turner banget, tapi hana juga ngga nangis...

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...