Friday, December 13, 2013

Scene on Three #3



Woow. Sudah berapa lama saya absen dari Scene on Three? But anyway, saya kembali~ *tebar confetti* Dan saya kembali dengan sedikit paragraf dari buku yang termasuk salah satu nonfiksi Indonesia sepanjang masa--dan saya merasa diri ini beruntung bisa menemukan bukunya di toko buku dekat kampus.

"Baikpun materialisme ataupun dialektika, bahkan juga logika, masing-masing mempunyai lapangan dan tafsiran berjenis-jenis. Materialisme itu bisa ditafsirkan dengan cara yang mekanis, secara mesin atau kematian mesin. Malah kaum mistika, kaum gaibpun bisa mempergunakan materialisme itu, buat memperlihatkan keulungan-sulapnya atau sulap-keulungannya. Dialektika yang berdasarkan pikiran dan kegaiban, yang pada Hegelisme melambung sampai ke puncak, masih terus-menerus dipakai sebagai perkakas buat meluhurkan rohani dan merohanikan keluhuran. Pemikir borjuis dan pemikir feodal bergantung pada dialektika mistika itu seperti seekor semut hanyut bergantung pada sepotong rumput yang diyun-ayunkan gelombang.

Logika memuncak pada ilmu bukti (science) zaman sekarang, dengan berjenis-jenis cabangnya ilmu itu. Hasilnya berjenis-jenis ilmu itu meulungkan dan menunggalkan kemanjurannya logika sebagai cara berpikir. Dengan begitu logika menyilaukan mata para pemakai penonton logika itu serta melupakan batas dan kelemahannya logika itu.

(....)Ahli filsafat yang jaya, ahli politik atau ahli siasat yang cerdas, ahli ekonomi yang sempurna, mesti memakai senjata-pertentangan, seperti senjata dalam pepatah Indonesia: pisau tajam balik bertimbal, kalau tak ujung pangkal mengena. Ahli filsafat mesti selalu berjalan diantara kedua kutub, Utara dan Selatan, ujung dan pangkal, ya dan tidak, ada dan tak ada. Sebentar bisa dia cemplungkan otaknya kedalam ada, sebentar lagi ke dalam tak ada, dan pada tempat masing-masing memakai logika, tetapi pada pemandangan jauh mempunyai tempo lama, dia mesti pikirkan ada itu terletak di kutub tidak ada, tak boleh bercerai satu sama lainnya."

Paragraf ini diambil dari buku Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika) yang ditulis oleh Tan Malaka, salah satu pemikir ulung dan Pahlawan Nasional Indonesia. Dalam paragraf ini Tan Malaka menjelaskan bahwa seorang pemikir ulung (ahli filsafat) tidak bisa hanya mengagungkan satu cara dalam memandang dan menyelesaikan suatu persoalan. Kita hendaknya tidak bersikap fanatik dan membuka pemikiran kita akan segala jenis paradigma yang ada dalam suatu pokok masalah tertentu. Paradigma, atau pola pikir yang bervariasi tersebut dapat kita gunakan sebagai pisau--mencatut istilah dari dosen feminisme saya--untuk memutus jeratan masalah yang ada dalam kehidupan kita, sesuai dengan paradigma yang tepat dipakai untuk menyelesaikan masalah tersebut. Istilahnya sama seperti pisau bedah dokter yang berbagai macam bentuk dan ukuran, untuk masing-masing kebutuhan, paradigma pun perlu ada bermacam-macam untuk keperluannya masing-masing.

Tan Malaka mengajarkan kita untuk objektif dan tidak berpihak dalam memandang suatu hal, apalagi fanatik. Melihat suatu masalah hanya dari satu sudut pandang dan paradigma, serta menganggap paradigma itu lebih hebat daripada yang lainnya adalah bentuk dari ketidakfasihan sebagai pemikir--atau bahasa kasarnya dari saya, ketololan dalam berpikir. Materialisme yang nyata serta dialektika yang gaib harus ditinjau berdasarkan pada logika agar bisa dipakai sesuai kebutuhannya.

Saya setuju pada pendapat Tan Malaka ini, bahwa tak ada paradigma yang sesungguhnya lebih unggul daripada yang lainnya. Makanya saya suka keki ketika ada salah satu teman yang fanatik menjelaskan semua masalah dengan unsur agama, satunya lagi fanatik menjunjung tinggi moral dan tata krama, sementara satunya lagi mengagungkan sains bak dewa. Lalu dengan konyolnya mereka saling sindir menganggap yang lainnya "tersesat" dalam dosa yang mereka yakini masing-masing. 

Share yuk deskripsi/suasana/setting cerita favoritmu:

1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan Bzee.
4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B'zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

1 comment:

  1. Semakin kita belajar, semakin kita sadar kalo kita tidak tahu apa2, mungkin krn kita kemudian menjadi sadar adanya dua kutub yg saling bertentangan itu, namun kedua2nya benar. Mau ke kutub yg mana? Itulah keputusan yg diambil sbg konsekuensi dr 'belajar' itu. :D

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...