Friday, November 28, 2014

[Review] A Monster Calls



Judul : A Monster Calls
Penulis : Patrick Ness
Penerbit : Candlewick Press
Tahun cetakan : 2011
Jenis : ebook
ISBN : 9780763655594

Rating : 5/5



A Monster Calls

Conor kerap mendapatkan mimpi buruk yang datang setiap tengah malam: mimpi yang begitu menyeramkan hingga dia akan tetap ketakutan bahkan setelah terbangun, mimpi yang terasa begitu nyata menyengkeramnya. Suatu malam, mimpi buruk tersebut akhirnya mewujud dalam kenyataan Conor. Pada pukul 12.07, Conor mengenali tanda-tanda familiar akan datangnya tersebut. Tapi ternyata, monster yang datang untuk menakutinya bukanlah monster seram dari mimpi buruknya.

Seekor monster yang mewujud dari pohon Yew di gereja di atas bukit mendatangi Conor setiap pukul 12.07 malam dan menceritakan tiga kisah padanya. Setelah kisah ketiga selesai diceritakan, monster tersebut menginginkan kisah keempat dari Conor: Kisah Kebenaran. Conor harus menceritakan kisah keempat tersebut dengan lengkap pada sang monster atau dia akan terjebak dalam mimpi buruk selamanya.

Kisah Pohon Yew

A Monster Calls sebenarnya adalah ide orisinil dari Siobhan Dowd yang terinspirasi dari penyakit terminal yang tengah dideritanya. Shioban Dowd telah menandatangani kontrak dengan penerbitnya untuk mempublikasikan novel ini, namun sayang, penyakitnya menang sebelum naskah ini terselesaikan. Setelah meninggalnya Dowd, editornya merasa sayang membuang naskahnya dan menawarkannya pada Patrick Ness untuk ditulis ulang sesuai dengan interpretasinya. Patrick Ness menyetujui, dan lahirlah sebuah karya luar biasa ini.

Tiga hal yang membuat saya membaca cerita ini: mimpi sebagai realisasi alam tak sadar manusia, kehilangan, dan keterasingan. Conor adalah seorang anak berusia 13 tahun yang hidupnya berubah sejak ibunya divonis menderita kanker stadium akhir. Di rumah dia harus menghadapi kenyataan bahwa tubuh ibunya semakin lama semakin lemah, sementara di sekolah, semua teman dan gurunya memandangnya dengan kasihan dan menghindari untuk bicara dengannya kecuali tiga bully sekolah, Harry dan teman-temannya, yang jadi rajin mengganggu Conor.

Tokoh-tokoh dalam novel ini bisa dijelaskan karakternya dengan baik walau hanya dalam kalimat-kalimat singkat. Saya paling suka pada tokoh Conor dan Harry si bully, terutama hubungan mereka yang terbentuk dengan aneh tapi saling pengertian. Patrick Ness memiliki cara yang unik dalam menciptakan dimensi bagi karakter-karakternya. Semua karakter di buku ini seolah menyembunyikan intensi masing-masing, yang alih-alih dijelaskan, malah seolah membuat pembaca berusaha menebak sendiri bagaimana sifat mereka yang sebenarnya. Patrick Ness juga sangat lihai dalam membangun atmosfir psikologis Connor sebagai narator cerita. Pembaca yang pernah terlibat dalam perawatan orang tersayang yang terkena penyakit terminal akan dengan mudah bersimpati dengan segala kebingungan dan perasaan keterasingan Connor dalam siklus berduka--yang tidak disadarinya.

Kisah Kehilangan

Pada intinya, sejak awal pembaca sudah akan tahu bahwa kisah ini adalah kisah tentang menghadapi kedukaan, juga tentang melihat segala sesuatu hanya dari dikotomi baik-buruk. Meskipun temanya biasa, namun Patrick Ness menyajikannya dengan unik, implisit, lirikal, dan emosional. Tulisannya adalah tipe tulisan yang menyedot perhatian pembaca dan mengajak pembaca hanyut dalam kisahnya meskipun sejak awal pembaca sudah mengantisipasi akhirnya. Karena yang terpenting seringkali adalah proses, bukan hasil akhirnya.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...