Wednesday, May 6, 2015

[Review] Salem Falls


Judul: Salem Falls
Penulis: Jodi Picoult
Penerbit: GPU
Tahun cetakan: 2006
Jenis: Paperback
ISBN: 9789792226584



Selamat datang di Salem Falls

Awalnya, Jack St. Bride hanyalah seorang guru sejarah di sebuah SMA khusus putri yang merangkap sebagai pelatih tim sepakbola SMA tersebut. Sampai suatu hari, karena khayalan seorang anak muridnya yang dimabuk cinta dengan Jack, Jack dijebloskan ke penjara dengan tuduhan pelecehan dan pemerkosaan.

Begitu menyelesaikan masa tahanannya, Jack yang merasa tidak bisa lagi kembali ke lingkungan asalnya, berkelana hingga ke Salem Falls, tempat dia akhirnya mendapat pekerjaan sebagai petugas pencuci piring di restoran keluarga lokal milik Addie Peabody. Di sana, hidupnya perlahan kembali normal, dia pun jatuh cinta pada Addie. Namun, sebagai seorang mantan napi atas tuduhan pemerkosaan, Jack wajib melaporkan statusnya kepada kepolisian setempat. Dan ketika seorang gadis anak pengusaha kaya di Salem Falls mengaku telah diperkosa oleh Jack dan Jack tidak dapat membuktikan alibinya, masa lalu kembali mendatangi Jack. Dengan efek dua kali lipat.

Sisi Lain Hukum Kekerasan dan Pelecehan Seksual

Perkosaan adalah masalah yang licin, bahkan di negara adidaya seperti Amerika. Di Indonesia sendiri, kasus perkosaan adalah salah satu jenis kasus yang paling banyak tidak diadukan ke meja hijau dan lebih banyak diselesaikan dengan kekeluargaan--lebih sering berakhir dengan korban perkosaan dinikahi oleh pemerkosa. Di Amerika, kasus kekerasan dan pelecehan seksual memiliki penanganan hukum yang baik, walau tidak berarti tanpa cela.

Kasus Jack St. Bride adalah salah satu penyimpangan dalam peradilan kasus kekerasan dan pelecehan seksual. Bisa dibilang, Jack St. Bride ini adalah orang yang sial karena mukanya terlalu ganteng dan sikapnya terlalu manis. Banyak perempuan jatuh hati padanya karena kombinasi menawan itu, dan hal itu menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Pada kasus pertama dengan murid ekskul sepak bolanya, Jack St. Bride dituduh memerkosa hanya karena gadis tersebut menuliskan imajinasinya berhubungan badan dengan Jack di buku diary. Ayah si gadis yang membacanya menuntut Jack ke pengadilan. Jack, diminta mengakui kesalahan daripada membela haknya, akhirnya mengakui perbuatan yang tak pernah dilakukannya hanya demi mendapat keringanan hukuman. Namun akibatnya, selamanya label kriminal akan terlekat di dirinya. Ketika kasus yang sama kembali menghantuinya di kehidupan keduanya, dia kembali sial. Tuduhan pemerkosa dijatuhkan padanya dan saat itu dia terjebak di dalamnya.

Sebenarnya saya merasa sebal dengan tokoh Jack yang terlalu baik hati dan selalu sial hanya karena mukanya ganteng. Jodi Picoult sendiri saya rasa kurang mampu mengeksplorasi sudut pandang Jack hingga saya kurang bisa bersimpati padanya. Jack sebagai tokoh utama, menurut saya, justru kurang dieksplor kisahnya--dan kisah cintanya dengan Addie--dibanding tokoh-tokoh sampingan. Pengacara Jack, Jordan, dan kisah cintanya dengan Selena, justru mendapat porsi pengembangan karakter yang lebih baik daripada Jack. Gillian, gadis yang mengaku diperkosa oleh Jack, juga terasa one-dimensional, atau, bahasa kasarnya, typical antagonistic bitch. Padahal di akhir-akhir ada bom yang membuat karakter Gillian seharusnya bisa lebih menarik.

Di sisi lain, saya kira memang tujuan utama kisah ini bukanlah soal hubungan cinta Jack-Addie atau pergulatan batin Jack. Jodi Picoult hanya menyajikan fakta bahwa selalu ada celah dalam proses hukum secara keseluruhan, dan hukum kekerasan dan pelecehan seksual secara spesifik. Selama ini, dalam kasus-kasus perkosaan di Amerika, saat ada orang yang dituduh sebagai pemerkosa, publik akan selalu berpihak pada korban dan menjelek-jelekkan pemerkosa. Jodi Picoult ingin menunjukkan bahwa ada kalanya perempuan menggunakan tuduhan perkosaan untuk tujuan manipulatif. Dan dia sangat berhasil menunjukkan hal ini. Di dalam novel juga penuh dengan detail proses peradilan kasus kekerasan dan pelecehan seksual. Sangat bagus untuk dijadikan referensi tentang proses pelaksanaan hukum di Amerika Serikat.

Kasus-kasus Pemerkosaan

Jodi Picoult telah berhasil mengolah celah-celah hukum dengan baik dan nyata, beserta reverse-discrimination yang juga ditempelkan pada para kriminal paska penahanan. Saya cukup menghargai adanya sudut pandang lain dari kisah tentang kasus pemerkosaan. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa pemerkosaan adalah jenis kasus yang masih perlu banyak perhatian. Banyak perempuan yang mendapatkan perlakuan kekerasan dan pelecehan seksual setiap harinya. Di Indonesia sendiri, Menurut data Komnas HAM tahun 2012, 35 perempuan mengalami kekerasan seksual setiap harinya. Dan angka itu hanya angka yang dilaporkan ke kepolisian, sementara banyak perempuan masih menolak untuk melaporkan tindak kekerasan dan pelecehan seksual yang terjadi pada mereka karena ketakutan akan stigma yang nantinya ditempelkan pada mereka.

Penegakan hukum kekerasan dan pelecehan seksual, terutama di Indonesia, masih harus terus digalakkan, meski kita tak boleh menutup mata bahwa di dunia ini akan ada orang-orang yang menggunakan celah hukum untuk memanipulasi orang lain.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...