Wednesday, May 13, 2015

[Review] Time After Time



Judul: Time After Time: Jatuh Cinta Sekali Lagi
Penulis: Aditia Yudis
Penerbit: Gagasmedia
Tahun cetakan: 2015
Jenis: paperback
ISBN: 9789797807894




Kompas waktu

Beberapa hari setelah kematian ayahnya, Lasja mendapatkan sebuah telepon misterius yang mengatakan soal paket yang tak pernah diterimanya. Penelepon itu mengatakan untuk menggunakan benda dalam paket itu untuk mengetahui kebenaran tentang ibunya. Karena selama ini Lasja percaya cerita ayahnya yang mengatakan bahwa sang ibu meninggal dalam kebakaran, Lasja mengabaikan ucapan penelepon misterius tersebut. Namun kemudian sahabatnya, Effie, menemukan paket berisi kompas misterius saat membantunya membereskan peninggalan ayahnya.

Keraguan mulai menyerang Lasja, terutama ketika mengingat bahwa ayahnya tidak pernah membicarakan atau menunjukkan foto ibunya sama sekali. Saat Lasja tengah dilanda kegalauan, kompas itu bekerja dan membawanya ke masa lalu. Surabaya pada era 80-an, tempat dimana kedua orangtuanya masih bersama.

Di sana, Lasja berusaha mencari tahu kebenaran tentang keberadaan ibunya, dibantu oleh seorang pemuda SMA bernama Banyu yang perlahan-lahan jatuh hati padanya.

Cinta berbeda dimensi waktu

Tema cerita cinta berbeda dimensi waktu bisa dibilang bukan lagi hal yang baru. Kisah yang terkenal sudah ada The Time Traveler's Wife di genre kontemporer dan seri Outlander di genre historical fiction. Di cerita ini, alasan Lasja bisa melakukan perjalanan waktu adalah karena dia mendapat kompas ajaib dari seorang yang misterius. Karena kompasnya disebutkan hanya sebagai kompas 'ajaib' dan minim penjelasan sains di balik time travel, jadinya buku ini saya masukkan ke rak fantasi alih-alih sci-fi.

Ceritanya sendiri termasuk cepat. Di beberapa tempat bahkan semacam kelihatan jelas kalau naskah awal-awalnya dibabat cukup banyak. Karakter-karakternya, selain Lasja dan Leia, jadi semacam numpang lewat, padahal mungkin bisa jadi karakter yang menarik. Misalnya, Tami. Dari deskripsi sifatnya sebenarnya saya jatuh cinta sama dia, tapi eh ternyata tidak dieksplor lebih banyak. Bahkan Lendra, yang jadi love interest Lasja kurang bisa menimbulkan simpati dalam diri saya. Tapi di sisi lain, saya suka keputusan-keputusan Kak Tia untuk membuat karakter-karakternya tidak black and white, meski space untuk eksplorasi lebih sepertinya tidak terlalu ada. Akibatnya, mungkin, karakter jadi sulit mendapat simpati--terutama karakter utama, Lasja, yang menurut saya annoying, egois dan nggak dewasa--tapi konsistensi Kak Tia dalam mengolah karakter unlikable ini membuat saya berhasil membaca sampai selesai.

Untuk masalah misteri dalam cerita, sebenarnya sudah bisa ditebak dari bab pertama soal ibu Lasja dan si pemuda yang menolong Lasja di Surabaya era 80-an. Saya malah sebenarnya berharap ada teori loop di dalam cerita ini, tapi terlalu imoral mungkin, kalau Lasja berakhir lahir dirinya sendiri. lol. Lagipula, sepertinya Kak Tia sendiri tidak berusaha menyembunyikan misteri-misterinya terlalu dalam, jadi ya sudahlah. Hanya saja, suasana setting Surabaya era 80-annya menurut saya kurang terasa. Lebih karena bahasa yang digunakan kebanyakan seperti 'terjemahan bebas' dari bahasa inggris. Kalimat-kalimatnya pun terkesan seperti novel terjemahan hingga saya bahkan sulit membayangkan kalau semua ini terjadi di Indonesia.

Dan, satu protes lagi, why the geeky reference for scifi movies and books? Kalau cuma Lasja yang suka scifi stuff, oke, bisa dimaklumi. Tapi ini semua karakter di sekitar Lasja suka scifi/fantasy dan semuanya membicarakan masalah novel-novel terkenal di genre scifi/fantasy. Rasanya jadi seperti geeky fans club beda generasi secara kebetulan ketemu dan bikin arisan klub scifi, membicarakan film-film dan novel-novel scifi-fantasi terpopuler.

Tapi tetap saja, novel Time After Time ini sangat menghibur dan nggak bikin bosan. Cocok buat yang lagi butuh bacaan cepat dan ringan tanpa terlalu banyak mikir. Saya suka gaya menulis Kak Tia yang mengalir. Enak banget dibaca. Rasanya ada keindahan tersendiri gitu dari tulisan Kak Tia #eaa. Jujur, saya kebanyakan ngowoh sama susunan kalimatnya dibanding ceritanya sendiri. Aaaah enak banget! Bikin iri! Kapan saya bisa nulis seenak itu? :'(

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...